
BERDIRINYA kafe Black Dew di Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto seakan mematahkan ekspektasi tentang anak muda zaman now yang kerap dipandang bergaya hidup hura-hura dan hedonis. Namun, sosok Elang Yudha Waskita, pemilik kafe tersebut justru jauh dari gambaran itu. Bahkan, dia sukses menjadi entrepreneur di usia muda.
Ia mulai terjun di dunia usaha sejak 2020 silam, tepatnya saat masih duduk di bangku SMA. Elang, sapaan karib Elang Yudha Waskita, mengaku berani mendirikan bisnis kafe bersama sang kakak, Dewanda Ramadhana Putra, setelah didorong atas kondisi perekonomian masyarakat yang tengah anjlok akibat dihantam pandemi Covid-19.
’’Waktu itu, karena banyak yang kena pemutusan hubungan kerja (PHK), mulai berpikir bagaimana punya usaha yang bisa menolong banyak orang juga,’’ katanya.
Kafe pertama yang ia kelola bersama sang kakak adalah Gartenhutte Trawas. Sejarah usahanya ini juga tak bisa dilepaskan dari jatuh bangun. Mulai dari penyediaan modal seadanya, hingga menggaet pengunjung agar mau datang ke kafe.
’’Awalnya hanya jualan minuman saja, seperti kopi dan semacamnya. Secara bertahap, mulai ada warga sekitar yang ahli membuat camilan, lalu kita gandeng dengan sistem titip di kafe kami,’’ jelas pemuda 20 tahun itu.
Berangkat dari situ, akhirnya ia mulai menjual konsep pemberdayaan tenaga kerja lokal. Meski dirasa bukan hal yang mudah. ’’Saya berupaya agar bisa menyerap tenaga kerja lokal, dan bisa memberikan manfaat bagi warga sekitar. Kami juga sempat mengundang juru masak hingga barista, agar mereka semua bisa belajar dan menambah keterampilan,” imbuhnya.
Berkat komitmennya, kafe Gartenhutte pun kini terus berkembang. Mitra kemasyarakatan dari tenaga lokal juga bertambah. Bahkan, berkat tangan dingin Elang, kafe tersebut sekarang berhasil menggandeng belasan mitra, yang semuanya adalah masyarakat sekitar.
’’Alhamdulillah, kafenya juga masih tetap bertahan dan jadi jujukan, baik di hari produktif maupun akhir pekan,’’ beber mahasiswa semester 5 di Program Studi Manajemen, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Surabaya (UBAYA) tersebut.
Black Dew yang baru dibuka Juli lalu juga mengusung konsep serupa. Kafe kekinian yang menghadirkan view apik dan menghadap Gunung Penanggungan ini turut menyajikan menu kuliner khas hasil racikan warga sekitar. Sehingga tak heran, jika wisatawan semakin betah untuk berkunjung ke kafe tersebut.
’’Kalau di sini, sementara masih menggandeng delapan mitra. Tentunya, nanti akan bertambah lagi. Karena untuk menambah mitra tidak bisa instan, pasti bertahap juga,’’ terang Elang.
Di tengah merebaknya kafe kekinian, ia juga memiliki kunci sukses agar usahanya tetap eksis. Tipsnya adalah konsisten dan inovatif. Konsisten yang dimaksud Elang, tetap menjaga kualitas menu dan menjaga kepuasan pelanggan.
’’Oleh karenanya kita menggandeng mitra. Karena setiap menu kuliner yang disajikan memang ada juru masaknya sendiri. Kalau beda yang buat, rasanya tentu juga berpengaruh,’’ ulasnya.
Sedangkan untuk inovatif, lanjut entrepreneur muda ini, selalu berpikir kreatif dan berani mengambil risiko. Termasuk selama mengelola manajemen kafe hingga menangkap selera pangsa pasar yang tengah tren. ’’Misalnya, untuk menu. Agar tidak bosan, perlu sesekali ada upgrade menu yang disajikan ke pelanggan, atau mungkin ada program baru. Sehingga bisa memanjakan konsumen,’’ tandas dia.

Hi, this is a comment.
To get started with moderating, editing, and deleting comments, please visit the Comments screen in the dashboard.
Commenter avatars come from Gravatar.